Dekattangerang.com – Aroma dupa yang terbakar perlahan berbaur dengan kepulan asap dari gerobak sate babi dan panggangan ayam di sepanjang jalan Pasar Lama. Saat malam turun, kawasan ini berubah menjadi lautan manusia yang berburu kuliner. Namun, jika Anda datang sedikit lebih awal ketika matahari masih cukup terang, Pasar Lama menawarkan sesuatu yang jauh lebih berharga daripada sekadar jajanan kaki lima. Di balik fasad ruko-ruko yang mulai kusam dan kabel listrik yang melintang tak beraturan, Tangerang menyimpan denyut sejarah yang melampaui citranya sebagai sekadar kota satelit atau pusat pabrik manufaktur.
Tangerang adalah titik temu. Selama berabad-abad, Sungai Cisadane menjadi saksi bisu bagaimana pedagang Tionghoa, serdadu kolonial, ulama penyebar agama, hingga pejuang kemerdekaan saling bersinggungan, meninggalkan jejak peradaban yang kini sebagian besar terkurung dalam bentuk museum dan situs cagar budaya.
Benteng Heritage dan Ingatan Komunitas Peranakan
Berjalan menyusuri lorong sempit di Jalan Cilame, Pasar Lama, perhatian Anda akan langsung tersita oleh sebuah bangunan tua berarsitektur vernakular Tionghoa yang sangat mencolok. Atapnya melengkung khas dengan ornamen detail yang seolah menolak tunduk pada modernisasi di sekelilingnya. Inilah Museum Benteng Heritage.
Banyak orang tidak tahu bahwa istilah “Cina Benteng” yang sering disematkan pada komunitas Tionghoa di Tangerang memiliki akar sejarah militer. Pada masa VOC, Belanda membangun sebuah benteng di tepian Sungai Cisadane untuk menahan serangan dari Kesultanan Banten. Masyarakat Tionghoa yang bekerja sebagai petani dan pedagang perlahan membangun permukiman di sekitar benteng tersebut.
Museum Benteng Heritage menempati salah satu rumah tertua di kawasan itu, diperkirakan berdiri sejak pertengahan abad ke-17. Bangunan ini tidak selalu terlihat megah. Selama bertahun-tahun, rumah ini telantar, disekat-sekat menjadi indekos kumuh, hingga atapnya nyaris rubuh. Udaya Halim, seorang pengusaha lokal yang tumbuh besar di Pasar Lama, akhirnya membeli bangunan tersebut dan memulai proses restorasi panjang pada tahun 2009.
Di dalam museum, pengunjung tidak hanya disuguhi barang antik. Setiap sudutnya bercerita. Ada timbangan candu dari abad ke-19 yang mengingatkan kita pada masa ketika perdagangan opium dilegalkan oleh pemerintah kolonial. Ada pula koleksi kamera tua, gramofon, hingga botol-botol kuno Kecap Teng Giok Seng—kecap legendaris cikal bakal kecap manis yang kini kita kenal. Melalui tur yang dipandu, Anda akan diajak memahami bagaimana komunitas Peranakan di Tangerang tidak hanya berdagang, tetapi juga menciptakan akulturasi budaya yang kuat dengan masyarakat lokal, mulai dari tradisi kuliner, pakaian kebaya encim, hingga musik Cokek.
Paradoks di Museum Pustaka Peranakan Tionghoa
Bergeser ke arah selatan, tepatnya di kawasan BSD, Kota Tangerang Selatan, terdapat sebuah ruang arsip yang mendobrak banyak stereotip. Museum Pustaka Peranakan Tionghoa tidak didirikan oleh seorang sejarawan keturunan Tionghoa, melainkan oleh Azmi Abubakar, seorang pria berdarah Aceh yang mendedikasikan hidupnya untuk merawat literatur pinggiran.
Ruangan museum ini mungkin tidak sebesar museum nasional, tetapi rak-raknya menahan beban sejarah yang luar biasa berat. Terdapat lebih dari puluhan ribu koleksi dokumen cetak peninggalan komunitas Tionghoa di Nusantara. Mulai dari koran-koran berbahasa Melayu-Tionghoa dari era 1920-an, komik-komik silat legendaris karya Asmaraman S. Kho Ping Hoo, hingga novel dan buku resep masakan kuno.
Mengapa literatur ini penting? Selama Orde Baru, segala bentuk kebudayaan dan ekspresi Tionghoa direpresi secara sistematis. Buku-buku dihancurkan, sekolah ditutup, dan nama-nama dipaksa berubah. Museum yang dikelola Azmi menjadi benteng pertahanan terakhir bagi karya-karya tulis tersebut. Membaca lembaran koran tua di sana memberikan pemahaman baru bahwa komunitas Tionghoa-Indonesia pada masa lampau sangat aktif dalam pergerakan jurnalistik, sastra, bahkan politik kebangsaan. Ini adalah bukti konkret bahwa sejarah Indonesia dibentuk oleh banyak tangan, dan tidak semua tangan itu dicatat dengan adil dalam buku pelajaran sekolah.
Palagan Lengkong: Tragedi di Usia Belia
Sejarah Tangerang tidak melulu soal perdagangan dan asimilasi budaya. Kota ini juga merekam jejak darah dari masa Revolusi Fisik. Untuk memahaminya, kita harus melihat Monumen Palagan Lengkong di Serpong, serta Taman Makam Pahlawan (TMP) Taruna di pusat Kota Tangerang.
Pada Januari 1946, tensi di sekitar Jakarta dan Tangerang sedang tinggi-tingginya. Pasukan sekutu sudah mendarat, dan tentara Jepang yang kalah perang diinstruksikan untuk tidak menyerahkan senjata kepada pejuang Indonesia. Akademi Militer Tangerang—yang baru saja didirikan—mendapat tugas berbahaya: melucuti senjata pasukan Jepang di markas mereka di Lengkong.
Operasi ini dipimpin oleh Mayor Daan Mogot, seorang perwira jenius yang saat itu baru menginjak usia 17 tahun. Operasi yang awalnya berjalan damai melalui meja perundingan dengan Mayor Hashimoto tiba-tiba berubah menjadi ladang pembantaian. Sebuah letusan senjata yang tidak diketahui asalnya memicu kepanikan. Pasukan Jepang yang merasa dikhianati langsung menembaki para taruna muda yang belum berpengalaman tempur.
Daan Mogot gugur dalam pertempuran tak seimbang tersebut, bersama puluhan perwira lainnya, termasuk dua paman dari Prabowo Subianto, yakni Subianto Djojohadikusumo dan Sujono Djojohadikusumo. Pakaian seragam yang bersimbah darah, helm baja yang berlubang tembus peluru, serta senjata-senjata rampasan dari peristiwa nahas tersebut kini sebagian dirawat dan dipamerkan dalam museum mini di kompleks TMP Taruna. Berdiri di depan makam Daan Mogot memberikan perspektif yang menghentak tentang betapa mahalnya harga sebuah kedaulatan, yang dibayar lunas oleh pemuda-pemuda yang usianya bahkan belum cukup untuk memiliki hak pilih di masa kini.
Monumen Hidup: Arsitektur dan Bendungan
Terkadang, museum terbaik tidak memiliki tiket masuk atau jam operasional. Mereka adalah struktur bangunan yang masih digunakan hingga detik ini. Di bantaran Sungai Cisadane, tidak jauh dari Pasar Lama, terdapat Masjid Jami Kalipasir. Ini adalah masjid tertua di Tangerang.
Alih-alih memiliki kubah besar bergaya Timur Tengah, menara masjid ini justru menjulang dengan bentuk menyerupai pagoda Tiongkok. Bentuk arsitektur ini bukanlah sebuah kebetulan atau kesalahan desain. Menara tersebut dibangun sebagai simbol persahabatan dan penghormatan dari komunitas Tionghoa kepada umat Islam setempat. Berada tepat di sebelah masjid ini adalah Klenteng Boen Tek Bio, yang telah berdiri sejak tahun 1684. Kedekatan fisik antara masjid dan klenteng ini menceritakan sejarah toleransi yang jauh lebih fasih dan meyakinkan daripada pidato-pidato politik modern.
Menyusuri Cisadane lebih jauh ke arah utara, kita akan menemukan struktur beton masif yang melintang membelah sungai. Bendungan Pintu Air Sepuluh, atau yang secara resmi bernama Bendungan Pasar Baru, adalah mahakarya teknik sipil kolonial Belanda yang selesai dibangun pada tahun 1927. Sesuai namanya, bendungan ini memiliki sepuluh pintu air yang berfungsi mengatur debit air sungai.
Pembangunan bendungan ini pada masanya mengubah wajah ekologi dan ekonomi Tangerang secara drastis. Lahan-lahan rawa dan hutan pesisir perlahan disulap menjadi area persawahan yang subur, menjadikan Tangerang sebagai lumbung padi utama untuk memasok kebutuhan Batavia. Meski kini sawah-sawah itu telah banyak yang tertutup aspal dan beton perumahan, Pintu Air Sepuluh tetap berdiri kokoh menahan arus air, mengingatkan kita pada ambisi kolonial yang membentuk tata ruang wilayah ini.
Mengenal Tangerang melalui situs-situs bersejarahnya membongkar lapisan-lapisan waktu yang sering terabaikan oleh laju urbanisasi. Dari kegigihan merawat rumah tua di Pasar Lama, keberanian menyelamatkan buku-buku yang dilarang, hingga darah taruna muda yang tumpah di Lengkong—semuanya menyajikan narasi bahwa kota ini tidak dibangun hanya dengan tumpukan batu bata dan mesin pabrik, melainkan oleh pergesekan kompleks antara identitas, keberanian, dan ingatan yang menolak untuk dihapus.

Leave a Reply